Batang | Jejakkontruksi.com — Aroma intrik politik tingkat desa kembali menyeruak di Kecamatan Wonotunggal, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Kali ini, sorotan publik tertuju pada Kepala Desa Wonotunggal berinisial Kswr, yang diduga memanfaatkan musyawarah desa sebagai kedok untuk menggerakkan aksi demo terhadap perangkat desanya sendiri.
Informasi yang dihimpun redaksi menyebut, Kswr mengundang seluruh Ketua RT di wilayahnya dengan alasan menghadiri musyawarah penting desa. Undangan tersebut disebar secara resmi, lengkap dengan kop surat dan tanda tangan, sehingga para Ketua RT merasa wajib hadir.
Namun, suasana pertemuan berubah drastis ketika forum dimulai. Dalam musyawarah yang diklaim resmi itu, Kswr justru mengarahkan pembicaraan ke isu pribadi, menyinggung Kepala Dusun (Kadus) Tegalsari, berinisial Musya Rfh, dan secara halus mengajak para Ketua RT untuk menggerakkan warganya agar melakukan aksi penolakan terhadap sang Kadus.
“Kami datang karena dikira musyawarah soal pembangunan atau bantuan desa, ternyata malah diarahkan untuk memojokkan Kadus Tegalsari. Kami kaget,” ujar salah satu Ketua RT yang enggan disebutkan namanya, Sabtu (18/10/2025).
Langkah Kswr tersebut menimbulkan tanda tanya besar. Apakah ini sekadar manuver politik internal, atau bentuk penyalahgunaan wewenang kepala desa demi kepentingan pribadi?
Sejumlah pengamat pemerintahan desa menilai, tindakan seperti ini berpotensi melanggar etika kepemimpinan dan dapat memicu disharmoni antarperangkat desa. Bahkan, jika terbukti terdapat unsur provokasi atau tekanan kepada masyarakat, Kswr bisa dijerat dengan pasal terkait penyalahgunaan jabatan publik.

Sementara itu, di kalangan warga, isu ini menjadi perbincangan hangat. Dari warung kopi hingga pos ronda, nama sang kepala desa terus jadi buah bibir.
“Kepala desa kok ngajak demo perangkatnya sendiri? Lucu tapi miris,” celetuk seorang warga yang turut menyoroti dinamika di desanya.
Publik kini menunggu langkah tegas dari pihak Kecamatan Wonotunggal maupun Inspektorat Kabupaten Batang untuk menelusuri motif di balik musyawarah yang berubah menjadi ajang provokasi ini. Jika dibiarkan, bukan tak mungkin Desa Wonotunggal berubah menjadi panggung intrik dan balas dendam politik ala sinetron murahan(Bersambung..)
(Tim Investigasi )







