UNGARAN | JEJAKKONTRUKSI.COM Proyek pembangunan drainase di wilayah Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, kembali menuai sorotan tajam. Tim media bersama lembaga pemantau menemukan sejumlah kejanggalan dalam pelaksanaan pekerjaan yang menggunakan material U-Ditch tersebut.
Pantauan di lapangan menunjukkan, papan nama proyek sempat tidak terlihat di lokasi. Warga menyebut papan tersebut rusak karena tersenggol alat berat saat pembersihan area kerja. Namun, tak lama berselang, papan kegiatan kembali terpasang dengan kondisi baru.
Fenomena ini menimbulkan dugaan adanya upaya untuk menutupi informasi publik terkait kegiatan proyek.
Selain itu, ditemukan indikasi kuat bahwa pekerjaan dilakukan asal-asalan. Sambungan cor antar U-Ditch tampak retak dan tidak rapat. Di beberapa titik bahkan tidak terdapat lantai kerja (pasangan dasar) sebagaimana ketentuan teknis konstruksi saluran air. Kondisi tersebut dikhawatirkan akan mengganggu aliran air dan mengurangi daya tahan bangunan.
Lebih parah lagi, para pekerja terlihat tidak mengenakan Alat Pelindung Diri (APD) selama kegiatan berlangsung. Padahal, penggunaan APD merupakan standar wajib dalam keselamatan kerja, terutama pada proyek pemerintah yang dibiayai uang rakyat.
Berdasarkan papan informasi kegiatan, proyek ini tercatat dalam Program Penyelenggaraan Jalan Kabupaten/Kota – Subkegiatan Rekonstruksi Jalan Kyai Hasan Munadi R 477, dengan nomor kontrak 027/08/SP/BM-PB/K/DPU/2025.
Nilai kontrak mencapai Rp2.924.618.000,00 dengan masa pelaksanaan 120 hari kalender, bersumber dari Bantuan Keuangan Khusus (BKK) Provinsi Jawa Tengah Tahun Anggaran 2025.
Proyek dilaksanakan oleh CV. Bangun Sejahtera sebagai penyedia jasa dan diawasi oleh CV. Cahayakonsultan selaku konsultan pengawas.
Saat dikonfirmasi, pelaksana lapangan yang enggan disebut namanya menyebut pekerjaan telah berjalan sekitar 12 minggu.
Sementara itu, BN, pemilik sekaligus kontraktor pelaksana proyek, membenarkan bahwa kegiatan tersebut merupakan tanggung jawab perusahaannya.
“Iya, itu pekerjaan kami. Saat ini progresnya baru sekitar 60 persen,” ujarnya singkat saat dihubungi melalui sambungan telepon.
Namun, ketika dikonfirmasi lebih lanjut melalui pesan WhatsApp, BN justru merespons dengan nada ketus baru sibuk Surve proyek dengan PU,” ucapnya.
Sikap tersebut menimbulkan tanda tanya publik atas keterbukaan informasi pelaksana proyek yang menggunakan dana pemerintah.
Warga sekitar berharap pihak kontraktor dan konsultan pengawas lebih memperhatikan mutu pekerjaan serta keselamatan kerja, agar proyek drainase yang diharapkan mampu mengatasi banjir tidak malah menimbulkan masalah baru.
Hingga berita ini diterbitkan, BN belum kembali memberikan tanggapan atas temuan di lapangan yang disampaikan melalui pesan singkat oleh awak media.[Saputra]







